Jumat, 11 September 2015

Tentang Rindu for KKN 29

Kangen lagi. Kangen, kangen, kangen. Kata itu selalu aja muncul di pikiranku, ketika ngelihat foto mereka walaupun sekilas, di gallery, di recent update bbm, dimana aja deh, dan aku selalu menghindari baper karena aku emang baper-an, jadi gawat kalo baper lagi. Gak nangis sih, melow kangennya itu loh, hehehe :')

Hai, rindu.

Memang satu bulan berada di satu atap tidak mungkin tidak menyimpan banyak kenangan, tidak mungkin tidak tahu kebiasaan satu sama lain, tidak mungkin untuk tidak rindu, tidak mungkin untuk tidak saling sayang, bagiku.


"Gunakanlah pertemuanmu itu sebaik-baiknya karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu terakhir bertemu. Ya kan?"

huft.

Banyak yang ngangenin disana, semuanya, tanpa terkecuali. Hm....

Angin dinginnya di pagi hari yang nusuk banget, rasanya Malang aja kalah sama dinginnya, terus kangen denger bunyi alarm yang selalu dimatiin sama Kiki setiap pagi, hahaha. Kangen berusaha bangun sepagi mungkin supaya bisa mandi tanpa diketuk, setelah adzan shubuh baru deh satu persatu bangun. 

Satu persatu berteriak untuk antri mandi, ada yang nyerobot karena panggilan alam, ada yang nyerobot untuk wudhu, ada juga yang masih tidur santai-santai gak bingung antri mandi, ada juga yang sibuk ngomentari acara gosip di TV, hahaha. 

Kangen setiap detil dari kebiasaan kalian, rek....
Klik readmore untuk ngelanjutin bacanya, masih panjang loh :)

Jumat, 04 September 2015

Pemalu yang Hangat

Bersahabatlah dengan angin, mungkin saja, suatu saat ia bisa menyampaikan pesanmu kepada seseorang-mu.

Bersahabatlah dengan langit, karena dia selalu menjadi saksi bisu atas segala kenanganmu.

Bersahabatlah dengan matahari, karena kita pasti selalu memandang matahari yang sama, di waktu yang berbeda.

Bersahabatlah dengan awan, karena awan dapat menerima semburan warna dari si Matahari, dia bisa menyerap energi kehangatan cinta si Matahari, dan memberikan keindahan untuk matamu.

Bersahabatlah dengan tanah, karena tanah tempatmu memijak, tempatmu berdiri, tempatmu melakukan segala hal dengan seseorang-mu atau orang lain.

Bersahabatlah dengan alam, karena indahnya alam bergantung pada tangan dan sikapmu, alam membutuhkan kepedulianmu.

Bersahabatlah, bersyukurlah, berserahlah kepada Pencipta segalanya, karena tanpa-Nya kamu tidak bisa bersahabat dengan mereka semua.

Hai blog, kalian dapat salam dari si Matahari yang malu-malu, kemaren pagi. Cuma mau bilang itu aja sih :)



Kamis, 03 September 2015

Berdampingan, Bukan Saling Meruntuhkan

Dia belajar banyak dari kamu, banyak sekali.

Bagaimana kamu tersenyum, bagaimana kamu bertutur kata, bagaimana kamu mengatakan iya, dan bagaimana kamu memanggil namanya.

Senyummu tulus, kedua sudut bibirmu terangkat ke samping ketika kamu memanggil namanya, sudut senyummu menjadi saksi bisu bagaimana dia membalas senyuman tulusmu.

Senyum tulusmu tetap ada saat kamu mendengarkan ceritanya, saat kamu membalas senyumnya, saat kamu memandang matanya, bahkan saat dia melakukan hal bodoh di depanmu. Pandanganmu dalam, matamu terfokus padanya, sehingga dia selalu merasa bahwa kamu mendengarkannya dengan sangat seksama, jadi jangan heran jika kamulah orang yang pertama dicari ketika dia ingin bercerita.

Padahal kesan pertamanya ke kamu itu buruk sekali, tapi itu manusiawi. Dia menilai dari apa yang dia lihat, tapi seharusnya kita perlu memahami dulu kan, barulah mengatakan itu buruk atau baik.

Setelah dia memahamimu, semuanya berjalan dengan baik kok.

Langkahmu lebar, dia jarang berani jalan tepat di sampingmu karena dia bukan orang yang terbiasa berjalan berdua dengan lawan jenis, tapi kamu terlalu membuatnya nyaman, kamu memposisikan dirimu seperti dia sudah lama mengenalmu, tidak terburu-buru, juga tidak terlalu cepat, semuanya berjalan apa adanya, dan tidak ada yang melewati batas aturannya.

Tapi kamu punya benteng yang sangat tinggi, dia juga. Benteng itu bisa berubah-ubah setiap waktu, kadang kokoh dan kadang ringkih. Dia dan kamu, saat ini....

pasti mengalami kebingungan, atau hanya dia saja ya?

Hm.

Tapi jika memang nyaman, dia tidak perlu susah-susah untuk menembus atau meruntuhkan bentengmu itu, tahu kenapa? Karena jika memang nyaman, benteng itu bisa berdampingan, kalian sama-sama punya benteng, tapi sama-sama tahu diri, sama-sama tahu bahwa benteng yang kalian punya itu sama-sama tidak boleh diruntuhkan. Paham kan?

Hm.


Ternyata kenyamanan itu ternyata tidak serumit menyukai seseorang ya?

Nyaman. Satu kata yang membuat aku tersenyum sepanjang hari tanpa harus meyakinkan diriku bahwa aku telah jatuh cinta. *azeeeek*

Selasa, 01 September 2015

Bukan Kamu

Terkadang di pagi hari, tiba-tiba dia muncul di depan rumahku membawakan sebuket bunga dan sepiring sarapan, dan hal itu sering di lakukan tiba-tiba tanpa permintaan, dia selalu menjadi orang teromantis di dunia, dari dulu hingga 3 tahun terakhir ini.

Dia juga memberikan segala hal yang aku inginkan tanpa aku meminta, tiba-tiba saja dia memberikan surprise kecil-kecilan tanpa aku minta, tapi aku mudah bahagia, jadi bagaimana aku tidak bahagia setiap hari karena dialah sumber kebahagian, bukan dari barang yang dia bawanya.

Dia memang cuek kepadaku ketika disibukkan sesuatu, kami sempat memutuskan hubungan, dan pada akhirnya dia memintaku kembali karena dia tidak hanya menyayangiku, tapi juga membutuhkanku.

Ketika aku sedih, dia datang tanpa aku minta, memberikan hiburan kepadaku tanpa membahas kesedihanku, dan dialah seseorang yang bisa membuatku nyaman meskipun dalam keheningan sekalipun.

Aku tidak pernah mencarinya karena dia selalu mencariku, dia selalu menanyakan bagaimana kabarku, bukan posesif, hanya saja dia terlalu mengkhawatirkanku.

Dia bukan hanya separuh jiwaku, tapi dia juga sahabatku, bekerja sama dalam berbagai hal, menyelesaikan masalah bersama, dan bersenang-senangku selalu bersama.

Dari semua cerita diatas tak ada satu pun adalah ceritaku, itu semua cerita orang lain yang aku jabarkan, lalu masihkah kamu bilang bahwa tulisanku itu melulu tentang aku dan kamu?.


Tak perlu ada ikatan apapun antara kita. Kita tak perlu saling menunggu. Kita hanya perlu belajar saling melepaskan dan menerima ketentuan-Nya — Mencintai Kehilangan

Large Yellow Polka Dot Pointer
by ANF