Tampilkan postingan dengan label Analogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Analogi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Pecinta Pagi Hari

Aku mengagumi bagaimana matahari menunjukkan cintanya kepada bumi,
Sang Matahari selalu tepat waktu dan selalu datang,
dan dia tak seperti hujan,
yang kadang datang dan kadang pergi.

Matahari yang begitu setia kepada bumi,
memberikan kehangatan tubuhnya kepada bumi,
memberikan cahaya terangnya kepada bumi yang gelap semalam,
memberikan ketepatan waktunya setiap hari.

tanpa diberitahu,
aku tahu bagaimana matahari begitu mencintai bumi

semoga matahari-kita segera menerangi gelap-kita semalam ya.

itulah kenapa pagi hari begitu menyejukkan,
karena kita merasakan kekuatan cinta matahari kepada bumi.



Salam Hangat


Pecinta Pagi Hari

Rabu, 08 Februari 2017

Pluviophile

(n) a lover of rain; someone who finds joy and peace of mind during rainy days

Seperti seseorang pluviophile yang menantikan hujan,
menunggu petrichor merasuki lubang-lubang hidung mereka,
tenggelam dalam ketenangan,
menikmati suara rintik hujan.

Hujan itu sang penyimpan memori,
setiap butir-butir yang jatuh ke bumi menyimpan satu kenangan untuk setiap orang,
bagaimana si hujan menyimpan memori-memori itu dengan kuat,
mempertahankan kenangan agar tidak keluar dari ruang butiran air.

siapa yang tidak menyukainya? siapa yang akan menyia-nyiakannya?

seorang pluviophile bukan seseorang yang tenggelam dalam kenangan,
ia menghargai setiap kenangan yang disimpan oleh butir hujan,
tapi lucunya butir hujan tidak hanya membawa butir kenangan,
sekarang ia membawa butir-butir pesan juga,

butir-butir pesan yang memiliki sebuah ritme,
ritme kehidupan,
ritme yang menyejukkan,
ritme yang diberikan secara sengaja,
ritme yang tidak pernah membosankan.

Menikmati ritme yang (mungkin) sengaja diberikan perlahan, tetap menyenangkan.
karena mungkin saja kan, ritme ini adalah ritme terakhir yang Kau berikan sebagai petunjuk sebuah 'lagu' kebahagiaan.

Hujan, bisa jadi sebuah petunjuk ritme 'kehidupan' di masa depan.


Senin, 30 Januari 2017

Ekspektasi

Sang batu tak pernah berkata kepada air bahwa ia kesakitan jika terus dijatuhi olehnya,
Sang air juga tidak pernah tahu bahwa dia telah menyakiti batu yang setia menemaninya,
Angin, lumut, dan tanah-tanah gembur itu menjadi saksi bisu hubungan mereka berdua,
Pertanyaannya, bila semua itu sebenarnya adalah manusia.

Kamu yang mana?

Aku tidak ingin menjadi batu yang tidak bisa mengatakan bahwa sebenarnya ia kesakitan,
Aku juga tidak ingin menjadi air yang tanpa sadar menyakiti seseorangnya setiap saat,
Aku juga tidak mau menjadi angin yang menjadi pembawa beritaentah benar atau salah,

Bagaimana dengan lumut?

Lumut? Dia juga tidak pernah berani berbicara dengan batu, 
Bagaimana batu bisa percaya, jika dia hanya mendapatkan berita dari angin,

Lumut, jika aku jadi kamu, aku akan mengatakan hal ini kepada batu,

"Hei, meskipun kau berkali-kali disakiti oleh air, aku ada disini, lihatlah aku"

"Aku sudah tumbuh di tubuhmu sejak air menyakitimu, aku yang melindungimu."

tapi apakah kalian tahu yang dilakukan lumut?
Dia hanya diam membisu, tak berkutik sedikit pun,
layaknya batu (dalam arti sebenarnya)

Emmm, tapi aku cukup salut dengan lumut, setidaknya dia langsung bertidak,
sayangnya batu tak semudah itu mencerna maksud si lumut

Baiklah. Jika bukan lumut, bagaimana dengan tanah-tanah gembur?

Emm.
Terkadang dia tercampur lumpur,
bahkan aku tidak bisa membedakan antara lumpur dan tanah-tanah gembur, 
aku tidak terlalu memahami mereka

------

Mungkin aku terlalu berekspektasi terhadap sesuatu,
ekspektasi terlalu tinggi, bagiku tak pernah tak menghasilkan kekecewaan.

Seperti batu yang terlalu berekspektasi dicintai oleh air,
Seperti air yang berekspektasi bahwa dialah yang paling hebat mencintai,
Seperti angin yang berekspektasi bahwa dialah yang paling tahu,
Seperti lumut yang berekspektasi sang batu tahu tentang dirinya,
Seperti tanah-tanah gembur yang berekspektasi untuk aku pahami,

Mereka semua berekspektasi.

"kau boleh berekspektasi, tapi jangan terlalu besar jika kau hanya diam. Besarkan saja usahamu, bukan ekspektasimu"

boleh kok, kau boleh berekspektasi, tapi jangan lupa untuk tahu diri,
membandingkan ekspektasimu dengan usahamu.

Apakah sudah sebanding?

Kamis, 10 November 2016

Seseorang Kopi-mu


Aku bukan pecinta kopi, bisa dibilang aku hanya seorang penikmatnya.
Aku lebih memilih teh hangat dengan lemon, dibandingkan kopi yang diberi creamer.
Aku lebih memilih minum air putih sebanyak-banyaknya dibanding minum kopi untuk membuat mataku terbuka.
Mengenal kopi? mungkin semenjak masuk bangku kuliah,
disitulah aku mulai familiar dengan rasa khas secangkir kopi.

Mungkin karena aku bisa terjaga di malam hari tanpa harus ada kopi,
Mungkin juga dulu di masa "jahiliah"-ku ada seseorang kopiku,
Mungkin juga karena rasanya yang membekas di mulutku,
atau mungkin karena kopi terlalu ampuh untuk diriku.

mungkin karena itu aku tidak bisa jadi pecintanya, atau belum?

Kopi itu bukan sekedar cairan berwarna di cangkir,
Kopi juga bukan sekedar kopi yang dicintai para pecintanya,

Bagiku.

Kopi itu bisa jadi seseorang, 
seseorang yang membuat kita tidak bisa tidur di malam hari,
seseorang yang membuat kantuk kita hilang dalam sekejap,
seseorang yang menjadi kopi sekaligus vitamin penyemangat.
seseorang yang mungkin masih disimpan............. (?)

Bersihkanlah serbuk-serbuk kopi yang dahulu,
Tenangkan hati, hilangkan serbuk-serbuk kecewa yang berserakan itu,
Untuk mencari kopi enak, tidak semudah itu.

Meskipun aku bukan pecinta kopi, tapi kata abi dan masku, kopi buatanku enak.
Iya, kopi racikan bukan kemasan.
Aku membuatnya dari kopi hitam yang didiamkan sebentar,
kemudian setelah beberapa saat aku beri creamer,
kata abiku, waktu untuk mendiamkan secangkir kopi bisa menghasilkan rasa yang berbeda.

Untuk membuat kopi yang enak dan spesial saja butuh waktu khusus.
Apalagi seseorang "kopi"-mu.

Biarkan waktu itu datang dengan tepat, ketika kau siap.
Lebih nikmat kan jika meminum kopi itu dengan angin sepoi-sepoi di langit pagi?
bersama "kopi" pagimu :)

Minggu, 24 April 2016


Bagaimana aku bisa menyamakan sesuatu yang jelas tidak sama.
Mereka berada di kotak yang berbeda.
Kenapa aku masih saja mengelak bahwa keduanya adalah hal yang sama?

tapi ketika dua hal berada di kotak yang berbeda, bisakah mereka tiba-tiba tercecer pada kotak yang sama?

entah kotak mana yang lebih istimewa, entah  mereka bisa tercampur atau tidak.

aku tidak lagi peduli tentang kotak-kotak itu, sekarang dan nanti.
aku berjalan mundur untuk melihat kotak-kotak itu lebih jauh,
ternyata kotak-kotak itu adalah bagian dari perpustakaan-mu.

Bagaimana aku bisa memahami?

Tidak bagaimana-bagaimana.

Aku tidak peduli, lagi. 
dan
Tidak berniat untuk memahami.

Kamis, 22 Oktober 2015

Apa iya?

Dia bukan pensilku, tapi aku merasa kehilangan pensil itu. Pensil itu seperti lupa pernah aku gunakan untuk beberapa lama, jika dia dikiaskan seperti pensil, apa iya dia sama-sama tidak bisa merindu?

Jumat, 16 Oktober 2015

Kias Kamu

Seperti kura-kura dan kelinci yang berlomba dari start hingga finish. Kura-kura memang tampak lambat, tampak bodoh karena melawan kelinci yang lebih cepat, tapi dia tidak pernah meremehkan satu langkah pun untuk mencapai finish.

Sama seperti aku, aku mencintaimu perlahan, tampaknya memang lambat, tapi aku tidak akan pernah meremehkan setiap langkahku untuk mencintaimu seutuhnya.

Kamu, iya kamu, Skripsweetku :)

Rabu, 14 Oktober 2015

Senyum Saja Sesekali

Putri daratan mendengarkan sesuatu yang mengejutkan tentang pangeran ikan, hal mengejutkan itu membuatnya tersenyum malam ini. Aku, iya, aku ini putri daratan sedang berdiam di tepi lautan dengan berjuta pikiran suntuk, pekerjaanku masih belum selesai juga, rasanya waktuku kurang, aku sempatkan pergi ke tepi lautan, mungkin saja pangeran ikan kembali muncul ke daratan, karena bagiku mengeluh sendirian, meskipun dalam hati itu memalukan, sang ratu daratan juga pernah bilang kepadaku "bagaimana kamu bisa mengeluh, sedangkan kau diberi nikmat sebegitu banyaknya oleh-Nya, mana rasa syukurmu? Masih pantaskah untuk mengeluh?"

Maka dari itu, aku lebih memilih untuk pergi sendirian ke tepi lautan, merasakan ombak yang tidak pernah bosan kembali ke daratan, melihat matahari yang menyapaku sambil memamerkan sinarnya yang menusuk awan-awan empuk di langit sana. Kupandangi hamparan biru didepanku, menantikan dia sang pangeran ikan yang mungkin saja mampir ke daratan.

Aha! Ternyata benar! Aku tidak rugi menunggu disini..

Entah kenapa, wajahnya yang adem membuat pikiranku kembali segar, rasanya semangatku kembali, rasanya aku masih punya waktu lagi untuk menyelesaikan segala kewajibanku. Dia, pangeran daratan seperti menyulap kesuntukan yang aku rasakan, seketika duniaku berwarna.

Hai Pangeran ikan terima kasih telah menyempatkan muncul sebentar ke daratan, kehadiranmu sedikit menghiburku disela-sela kesibukan tugas dari kerajaan daratanku, rasanya sekarang semua terasa ringan, aku juga tidak pernah lupa dengan senyuman khasmu itu, diam-diam aku memperhatikanmu, tak ada seorang pun yang tahu kan hingga detik ini? =))

Kamu saja tidak tahu, hahaha. oh iya, sesekali kamu juga boleh membantu tugas daratanku =)) *bah

Meskipun hanya sebentar senyuman dan suara lirihmu mampu membangkitkan semangatku yang sempat hilang ditelan kesuntukan. Apalagi setelah mendengar kata-kata dari putri daratan yang lain.

“Pangeran ikan juga.............”

Deg! Kenapa dia? Let me know....

Kamu itu seperti arloji yang selalu mengingatkanku akan waktu, sesekali aku harus melihatmu tetapi tidak mungkin setiap saat aku memandangmu. Kamu itu sedingin es, tapi terkadang mencair, terkadang benar-benar beku. Kamu juga seperti buku yang berada di bawah jurang, aku berusaha "menggapaimu", tapi tidak pernah bisa. Kamu seperti buku diaryku, tidak ingin raganya diketahui oleh orang lain, hanya sang pemilik yang boleh tahu. Kamu ya kamu deh pokoknya. =))

tetaplah dingin seperti es kepada semua orang, termasuk aku, tetaplah jadi dirimu. 

Oh iya, satu lagi. Terimakasih telah membangkitkan semangatku =))

Selasa, 06 Oktober 2015

Hai pangeran ikan (lagi)

Hari ini pangeran ikan muncul ke daratan, dia menghempaskan senyuman lebarnya, cukup manis. Badannya sedikit basah (lagi), aku pikir dia akan pergi bersama para putri daratan, tetapi...

Tiba-tiba pangeran ikan kembali menyelam, tanpa pamit kepada putri daratan. Aku pikir dia mulai berani untuk bermain ke daratan, tapi seperti dia belum siap. Yah, mau bagaimana lagi? Pangeran ikan tetaplah pangeran ikan, dia lugu, baik, dan cukup membuat putri daratan penasaran.


Apasih yang ada di pikiran pangeran ikan? boleh kasih bocoran dikit gak pangeraaan?

padahal kemaren ceritanya udah the end, tapi ternyata :))

Minggu, 27 September 2015

Pilih Siripmu atau Putri Daratan?

Semua orang pasti penasaran akan masa depan mereka, begitu juga aku sebagai putri daratan. Aku sangat penasaran apakah pangeran ikan adalah jawaban dari setiap doaku yang aku lontarkan ketika ombak terus menghempaskan tubuhnya ke pesisir pantai tanpa henti atau pangeran ikan hanyalah angin lalu yang seharusnya tidak perlu dihiraukan.

Pangeran ikan, jawab aku, kamu termasuk yang mana?

Sang Pemilik Ombak pasti memiliki kejutan untuk pangeran ikan, begitu juga dengan makhluk lainnya. Semuanya masih rahasia, pangeran ikan dan aku harus menjalani semuanya agar menemukan jawaban.

Pangeran ikan, sudah cukup lama aku menunggu di pesisir pantai ini, tidakkah kau ingin menengok ke daratan sebentar?

Bagaimana jika ada yang bisa menukar siripmu dengan paru-paru? Maukah kau menukarnya? untukku?

Jadi, sekali-kali kamu bisa bernapas di daratan, menyapaku. Kemudian kau bisa kembali ke lautan semaumu, tapi kau tidak bisa sesempurna dulu. Siripmu sudah kau tukar kan?

Tukarkan siripmu, suatu saat nanti, ketika kau sudah siap, ketika kau sudah tau caranya bertahan hidup menjadi makhluk daratan dan makhluk lautan.

atau kamu bisa memilih untuk selamanya di daratan bersamaku, tidak usah kembali ke lautan, akan lebih mudah bukan?

Hem. Pangeran ikan, jika kau bingung bagaimana cara bertahan hidup di daratan, aku rela memberikanmu beberapa kunci untuk memahami caranya. 

Tapi sebelum semua terjadi, aku ingin bertanya. Apakah kau cukup punya nyali untuk melepas badan basahmu itu, melepas siripmu, dan pada akhirnya kau juga bisa mulai menegur makhluk daratan, atau bahkan kau akan menjadi makhluk daratan sejati.

Aku yakin, meskipun entah kapan, kau pasti akan menyapa putri daratan, walaupun misalnya putri daratan itu bukan aku. Waktu itu pasti akan tetap datang.

Siapapun putri daratan nanti yang kau sapa, aku akan tetap bahagia karena kau sudah berhasil menelusuri lautan hingga akhirnya kembali ke daratan.

THE END.

baca juga: Pangeran Ikan yang Selalu Sungkan, Seperti Menunggu Senja

Jumat, 25 September 2015

Seperti Menunggu Senja

Ternyata sang pangeran ikan tidak pernah menoleh ke arahku, maklum aku hanya putri daratan biasa. 

Mungkin dia mengharapkan putri-putri di lautan sana atau malah putri daratan di negri seberang. 

Lalu, apa yang harus kulakukan? Jika menyebut nama pangeran itu pun aku tak bisa. 

Aku tidak pernah tahu kabar pangeran ikan karena aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Dia juga tidak pernah menanyakan kabarku.

Aku hanya duduk diam di pinggir lautan menunggu dia muncul di permukaan, memandangi birunya lautan, dan gelombang yang terus menghampiriku. 

Aku baru ingat. Pangeran ikan bukanlah lumba-lumba yang suka muncul di permukaan, pangeran ikan juga bukan hiu yang rela merobek daging setelah mencium bau darah, pangeran ikan juga bukan ikan paus yang besar dan selalu mengeluarkan air dari punggungnya. 

Pangeran ikan cuma pangeran ikan yang memiliki kerajaan yang dia buat sendiri, demi keselamatan dirinya.

Tapi kenapa aku tetap menunggu di pinggir lautan? Sedangkan aku tahu dia tidak akan muncul.

Mungkin.

Seperti lautan yang menunggu senja, dia tidak pernah tahu pasti kapan senja datang, tapi dia tidak akan pernah bosan untuk menunggu dan menyambut senja yang sama di setiap menjelang petang.

baca juga: Pangeran Ikan yang Selalu Sungkan, Pilih Siripmu atau Putri Daratan?

Pangeran Ikan yang Selalu Sungkan

Pangeran ikan. Dia adalah pangeran ikan yang selalu membuatku penasaran.

Aku belum bisa melihatnya jelas karena aku berada di daratan, dia di lautan. Badan tak tampak, tapi kehadirannya jelas adanya.

Badanku selalu kering, sedangkan dia selalu basah seperti ketakutan. 

Rasanya ketika melihat sang pangeran seperti melihat diriku di masa lampau, lucu ya, ternyata aku bisa melihat sosok diriku sendiri di sesosok pangeran itu. Hihihi. 

Dia pangeran ikan yang suka berpetualang, dia seperti sedang mencari jati dirinya, berkelana ke segala penjuru lautan, memperhatikan arah kemana dia harus pergi mencari, melindungi dirinya dari serangan ikan-ikan yang lebih besar, dan memasang tameng tebal untuk menghindar dari putri-putri lautan.

Ingin rasanya aku menyelam ke lautan dan mencari tahu siapakah sebenarnya pangeran ikan itu, tapi....

Aku terlalu takut untuk menyelam, aku takut kehadiranku tidak diinginkan di kerajaannya.

Selain selalu basah seperti ketakutan, dia juga sangat dingin, sehingga membuat diriku enggan untuk membuka percakapan. 

Pangeran ikan, bisakah kamu sekali-kali pergi ke daratan, setidaknya hanya untuk sekedar menyapaku sejenak?

Aku tidak pernah mendengarkan suaramu untukku. 

Senin, 01 September 2014

Antara Senyum, Biru, dan Batu Karang

Jika kebanyakan orang-orang menyukai warna jingga di langit yang kontras dengan air laut, aku lebih suka warna biru bersih yang seperti dihiasi dengan kapas-kapas empuk, entah kenapa. Aku merasakan kedamaian didalamnya.

Paduan warna biru bersih, biru laut, dan putih bagiku itu paduan warna yang sempurna. 

Jika kebanyakan orang-orang bisa melihat ketulusan dari mata, aku melihat dari sisi yang berbeda, aku melihat dari bagaimana seseorang itu tersenyum. Entah kenapa, aku bisa merasakan perbedaan mana yang senyum tulus, mana yang senyum palsu, dan mana yang sekedar senyum. Jika benar tulus, aku bisa merasakan damainya. Damainya seperti aku melihat warna senada laut dan langit itu, tak lupa diiringi dengan angin sejuk dan aroma harum pantai yang khas. 

Senyum tulus itu seperti tergambar jelas di wajahnya, diikuti dengan mata yang berbinar, dan semua otot wajah yang tertarik ramah bersama senyumnya. Sangat mudah untuk merasakannya, aku tidak melihat, tapi aku merasakannya kemudian baru aku melihatnya. (atau kebalik ya, eh, entahlah)

Mata memang tidak bisa berbohong, tapi apakah kamu bisa melihat mata itu ketika dia berpaling? Berpaling dan tidak melihat matamu..

Maka dari itu..

Senyum itu seperti laut, dia luas dan damai. Dia tidak bisa berpaling, dia tetap ada disana karena senyum tulus itu tidak bisa disembunyikan begitu saja. Seperti batu karang yang menerima lemparan ombak, dia rela terkikis demi ombak. Batu karang dan ombak itu seperti dua insan yang saling memberikan senyum dan sama-sama memberikan ketulusan pada otot positif di wajahnya. 

Mereka akan tetap terlihat dan tak ada yang bisa menyembunyikan itu, well, aku suka senyummu, tapi itu dulu. 

Tidak bisa dipungkiri, bahwa terkadang aku menilai seseorang dari senyumannya. :)

Sabtu, 23 Agustus 2014

Dayung dan Lumba-Lumba

"Berarti kamu sama aja dong kayak dia, setali tiga uang, kamu membalas hal yang sama ke dia"

Perkataan itu selalu berputar di otakku, menurutku ini bukan membalas, aku hanya menyadarkan dia tentang hal yang dia lakukan agar dia tahu bagaimana rasanya, apa itu salah? hehe, lagian orang itu pasti tidak sadar, huh, yaiyalah.

oh, satu kata, aku bukan pendendam kok. ini cuma tulisan, kendorkan kerutan keningmu itu :)

Bayangkan jika kalian berada di sebuah perahu, kalian harus mendayung perahu itu bersama-sama, tapi ternyata kamu hanya mendayung sendirian, lelah? Pasti, karena berjuang sendirian itu terlalu melelahkan, sangat melelahkan. Angin, ombak, ah serem deh, naudzubillah :( 

Aku bukan membahas tentang kesendirian dalam sebuah harapan yang telah lenyap di tengah samudra (asik kata-kataku huahahaha, nggilani) Aku hanya membahas tentang rasa kecewa yang diberikan secara bertubi-tubi, iya, keroyokan gitu, gila aja, aku kan manusia biasa, hello please!

Kekecewaan memang bukan dibalas kekecewaan. Aku tidak pernah bilang kalo kecewa, aku hanya diam dan menunjukan melalui sikap, wanita memang begitu, mereka selalu ingin ditebak, sulit memang, maklum ya.

Akhirnya aku berpikir, "kalo dia bisa bikin aku kecewa, kenapa aku harus berusaha untuk tidak membuatnya kecewa?"

Iya, aku berkata seperti itu karena aku lelah mendayung sendirian di tengah samudra, aku bisa renang kok, jadi mendingan aku nyemplung aja, aku nyemplung terus mau ketemu sama lumba-lumba biar aku digendong terus di bawa pulang ke rumah, lumayan kan sekalian olahraga diajak lompat-lompat sama lumba-lumba, kalo enggak aku di angkat jadi putri lumba-lumba deh, tapi maunya putri lumba-lumba yang cantik, mau kayak princess Elsa. Terus kamu gak bisa ndayung deh sendirian di laut, kapok, soalnya alat yg buat ndayung di makan sama lumba-lumba. Duh. Ampun deh, aku gak fokus maksimal. Ah, abaikan. Lagi gatau mau nulis apa.

Ampuni Atikah, Ya Allah...

Cuma tulisan iseng ya Allah, efek dari baca novel ya allah, bukan novel lumba-lumba tapi ya allah...

tulisan gak serius :(

"kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan hanya membebani hati dan pikiran. Aku berlindung pada Allah dari rasa ini.." (mama doa begitu, dan aku juga) O:)

Rabu, 20 Agustus 2014

Hai biru apa kabar?


Hai biru, keajaiban Penciptamu selalu membuat aku ingin mengelilingi saudara birumu di seluruh penjuru dunia ini.

Hai biru, kau lemparkan ombak itu semaumu bersama angin seperti ucapan selamat datang untukku.

Hai biru, semoga putihmu akan selalu bersih dan jauh dari tangan kotor manusia yang tidak peduli akanmu, lindungi dirimu dari sampah ya. Agar aku tidak sedih jika melihatmu. 

Hai biru, kau seperti obat pilu dari hati, segala resah sekejap sirna ketika melihat indahnya hasil karya Penciptamu. Ya, kau selalu jadi obat piluku, biru, selalu. 

Hai biru, suatu saat nanti aku akan pergi keseluruh birumu, dimanapun itu, dan semoga Penciptamu mengijinkannya. 

Itulah impianku. 

Hai biru, ijinkan ragaku merindumu. Jaga angin kencang itu ya, biru, karena hal itu adalah bagian yang paling aku suka. Melihatmu dan merasakan angin kencang yang selalu mengiringimu. 


Selasa, 24 Juni 2014

Hati yang Berlabuh

Jangan pernah takut untuk kehilangan karena kehilangan tidak pernah sungguh-sungguh kehilangan. Tenang, jika memang kamu adalah tempat hatinya untuk berlabuh, dia tidak akan pernah salah menuju jalan pulang.

Tapi bagaimana jika di hati itupun tidak ada sesosokku lagi? 

Tenang, jika memang iya dia tempatmu pulang, sesosok itu pasti akan muncul lagi sesuai ijin-Nya dengan mudahnya di luar akal sehatmu. Ini cuma masalah waktu kok. Cinta akan datang dengan mudahnya jika memang aku tempat kembalimu.

Tapi bagaimana jika aku bukan tempat hati itu untuk pulang? 

Tenang, masih banyak hati lain yang lebih baik dan pasti dia sudah siap untuk berlabuh kok.

Karena hati pasti akan pulang ke tempat dia berasal, kamu tidak perlu takut. Mereka tidak akan tersesat di jalan pulang. Cinta akan berlabuh seperti kapal yang pulang ke pelabuhan, seperti pesawat yang melandas di bandara, seperti seorang nelayan yang pergi ke tepian pantai setelah dia lelah mencari ikan, seperti bumerang yang kembali ke tangan suku Aborigin setelah dilemparkan, dan seperti semua manusia yang akan kembali ke tanah sebagaimana ia diciptakan dari tanah. 

Semua akan kembali ke tempat ia berasal, kamu harus percaya itu. 

Cinta itu bukan masalah saling atau bertepuk sebelah tangan, cinta juga bukan masalah siapa yang paling cinta atau siapa yang paling peduli, cinta juga bukan masalah siapa yang paling lama dicintai atau siapa yang lebih dulu cinta, tapi cinta itu masalah waktu karena waktu yang tidak tepat bisa membuat cinta itu pupus saat dia bersemi. 

Kalo memang ini cinta, kalo memang ini iya, sang Pencipta pasti memiliki maksud untuk kita semua. 

Hatimu nanti pasti akan berlabuh, tapi entah ke pelabuhan yang mana, kita tak akan pernah tahu :)

Sabtu, 25 Januari 2014

The Power Of #UdahPutusinAjaCoy

Kemaren aku sama anak-anak main kata zona-zona-an gitu deh, Apa itu? Hemm, pasti pada tau deh kalo kalian nge-follow kak Oka. Contohnya itu kayak krupuk zone, kok krupuk? Makanya dengerin dulu, gini..

Kalian inget? kalo misalnya pas kalian lagi makan siang dan kalian pengen banget krupuk eh si krupuk malah gak ada, sebel banget kan? terus waktu ada krupuk, eh ternyata baru keliatan di akhir makan, dan makanannya udah habis, nah itu sama kayak zona dimana ada orang yang kalo di cariin selalu gak ada, tapi kalo gak di cariin eh malah tiba-tiba dateng seenaknya. Hayo siapa yang ada di zona ini? Ecieeeee~ kratak-kratak, dan itu sih kata kak oka.


Kalo kata kita sih, tet teret tereeeet, masih banyak zona-zona yang harus di selidiki dan di analogikan hahahaha *pretlah karena... Ah seru deh kemaren itu! Hahahaha. Cekidot~


Capcin Zone


Ini adalah masa di mana ada couple yang salah satu dari mereka gak setia, jadi pas hubungannya mereka lagi panas alias bertengkar terus, dia nyari yang seger-seger alias nyari sesuatu yang "lain" buat ngademin ati. Sama kan kayak Capcin kan, di cari waktu panas-panas biar tenggorokan adem, tapi kadang juga ada lo yang nyari waktu dingin, meskipun dingin ternyata "capcin" juga masih dicari aja, bahaya deeh. Hayolohhh.. Daripada sakit begitu mendingan #UdahPutusinAja *pakemukenah* *lapotik?!* ah entahlah.

Klik readmore buat Zone-zone yang lain!! :D

Jumat, 10 Mei 2013

Penerima Pesan

Ingin menyampaikan sebuah pesan tapi tanpa melalui kode yang rumit seperti pintalan benang.

Ingin menyampaikan sebuah pesan tanpa menggunakan botol yang nanti di lemparkan ke laut.

Ingin menyampaikan sebuah pesan tapi tanpa bantuan pak pos yang senantiasa meletakkan pesan itu di kotak surat

Ingin menyampaikan sebuah pesan tapi tanpa ketahuan.

Ingin menyampaikan sebuah pesan tanpa harus bicara, tanpa harus berkata, tanpa harus bertindak tapi sang penerima tahu isi pesan itu, tahu maksud dari pesan itu tanpa penjelasan dari sang penulis pesan.

Ingin menyampaikan sebuah pesan dengan suara kecil yang tidak pernah bisa di dengar oleh siapapun, kecuali ketika hati mulai mendengarkannya dengan perlahan dan hati-hati.

Ingin menyampaikan sebuah pesan melalui doa kepada Tuhan-ku, supaya sang penerima pesan tahu tanpa harus di beri tahu.

Ingin menyampaikan pesan dan sang penerima pesan tetap pura-pura tidak tahu jika pesan itu sudah tersampaikan, karena sang pengirim pesan adalah seseorang yang pemalu.

Sabtu, 06 April 2013

Analogi

Pohon selalu di lengkapi akar, batang, daun dan ranting.

Kamu itu kayak akar yang memperkokoh batang, batang bisa tegak berdiri karena ada akar yang memperkokoh dan membuat ia tetap kokoh tak tertandingi cetar membahana *lah*.

Kalo ranting, dia bisa jatuh dan patah begitu saja jika angin menerpanya. Kalo daun, dia akan rontok jika dia sudah tak kuat hidup.

Aku mau jadi batangnya kalo akarnya kamu, karena aku yakin kamu bisa memperkokoh semangatku yang masih naik turun gak jelas. Batang sama akar itu bakalan selalu bersama sampe dia tidak kuat untuk hidup dan akhirnya roboh.

Tapi, aku sama sekali gak ingin jadi ranting karena nanti aku pasti sedih, ketika aku jatuh ke tanah, karena aku pasti akan menyaksikan akar dan batang berjuang bersama untuk tetap hidup, sedangkan aku? Dilupakan. Akar lupa kalo ranting itu pernah ada di pohon itu, ada di 'otak' dan 'hati' pohon itu.

Jangan pernah jadikan aku ranting, jadikan aku batang yang kamu kokohkan dengan akarmu dari hari kehari, bisa kan?

*lagi belajar nulis analogi kayak mas alfa*
Large Yellow Polka Dot Pointer
by ANF