Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Oktober 2015
Apa iya?
Dia bukan pensilku, tapi aku merasa kehilangan pensil itu. Pensil itu seperti lupa pernah aku gunakan untuk beberapa lama, jika dia dikiaskan seperti pensil, apa iya dia sama-sama tidak bisa merindu?
Rabu, 14 Oktober 2015
Senyum Saja Sesekali
Putri daratan mendengarkan sesuatu yang mengejutkan tentang
pangeran ikan, hal mengejutkan itu membuatnya tersenyum malam ini. Aku, iya,
aku ini putri daratan sedang berdiam di tepi lautan dengan berjuta pikiran
suntuk, pekerjaanku masih belum selesai juga, rasanya waktuku kurang, aku
sempatkan pergi ke tepi lautan, mungkin saja pangeran ikan kembali muncul ke
daratan, karena bagiku mengeluh sendirian, meskipun dalam hati itu memalukan, sang ratu daratan
juga pernah bilang kepadaku "bagaimana
kamu bisa mengeluh, sedangkan kau diberi nikmat sebegitu banyaknya oleh-Nya,
mana rasa syukurmu? Masih pantaskah untuk mengeluh?"
Maka dari itu, aku lebih memilih untuk pergi sendirian ke
tepi lautan, merasakan ombak yang tidak pernah bosan kembali ke daratan,
melihat matahari yang menyapaku sambil memamerkan sinarnya yang menusuk
awan-awan empuk di langit sana. Kupandangi hamparan biru didepanku, menantikan dia
sang pangeran ikan yang mungkin saja mampir ke daratan.
Aha! Ternyata benar! Aku tidak rugi menunggu disini..
Entah kenapa, wajahnya yang adem membuat pikiranku kembali segar, rasanya semangatku kembali,
rasanya aku masih punya waktu lagi untuk menyelesaikan segala kewajibanku. Dia,
pangeran daratan seperti menyulap
kesuntukan yang aku rasakan, seketika duniaku berwarna.
Hai Pangeran ikan terima kasih telah menyempatkan muncul
sebentar ke daratan, kehadiranmu sedikit menghiburku disela-sela kesibukan
tugas dari kerajaan daratanku, rasanya sekarang semua terasa ringan, aku juga
tidak pernah lupa dengan senyuman khasmu
itu, diam-diam aku memperhatikanmu, tak ada seorang pun yang tahu kan hingga
detik ini? =))
Kamu saja tidak tahu,
hahaha. oh iya, sesekali kamu juga boleh membantu tugas daratanku =)) *bah
Meskipun hanya sebentar senyuman dan suara lirihmu mampu membangkitkan semangatku yang sempat hilang ditelan kesuntukan. Apalagi setelah
mendengar kata-kata dari putri daratan yang lain.
“Pangeran ikan juga.............”
Deg! Kenapa dia? Let
me know....
Kamu itu seperti arloji yang selalu mengingatkanku akan waktu, sesekali aku harus melihatmu tetapi tidak mungkin setiap saat aku memandangmu. Kamu itu sedingin es, tapi terkadang mencair, terkadang benar-benar beku. Kamu juga seperti buku yang berada di bawah jurang, aku berusaha "menggapaimu", tapi tidak pernah bisa. Kamu seperti buku diaryku, tidak ingin raganya diketahui oleh orang lain, hanya sang pemilik yang boleh tahu. Kamu ya kamu deh pokoknya. =))
tetaplah dingin seperti es kepada semua orang, termasuk aku, tetaplah jadi dirimu.
Oh iya, satu lagi. Terimakasih telah membangkitkan semangatku =))
Selasa, 01 September 2015
Bukan Kamu
Terkadang di pagi hari, tiba-tiba dia muncul di depan rumahku membawakan sebuket bunga dan sepiring sarapan, dan hal itu sering di lakukan tiba-tiba tanpa permintaan, dia selalu menjadi orang teromantis di dunia, dari dulu hingga 3 tahun terakhir ini.
Dia juga memberikan segala hal yang aku inginkan tanpa aku meminta, tiba-tiba saja dia memberikan surprise kecil-kecilan tanpa aku minta, tapi aku mudah bahagia, jadi bagaimana aku tidak bahagia setiap hari karena dialah sumber kebahagian, bukan dari barang yang dia bawanya.
Dia memang cuek kepadaku ketika disibukkan sesuatu, kami sempat memutuskan hubungan, dan pada akhirnya dia memintaku kembali karena dia tidak hanya menyayangiku, tapi juga membutuhkanku.
Ketika aku sedih, dia datang tanpa aku minta, memberikan hiburan kepadaku tanpa membahas kesedihanku, dan dialah seseorang yang bisa membuatku nyaman meskipun dalam keheningan sekalipun.
Aku tidak pernah mencarinya karena dia selalu mencariku, dia selalu menanyakan bagaimana kabarku, bukan posesif, hanya saja dia terlalu mengkhawatirkanku.
Dia bukan hanya separuh jiwaku, tapi dia juga sahabatku, bekerja sama dalam berbagai hal, menyelesaikan masalah bersama, dan bersenang-senangku selalu bersama.
Dari semua cerita diatas tak ada satu pun adalah ceritaku, itu semua cerita orang lain yang aku jabarkan, lalu masihkah kamu bilang bahwa tulisanku itu melulu tentang aku dan kamu?.
Langganan:
Postingan (Atom)
by ANF
