Kamis, 28 Desember 2017




Ketika menyayangi memiliki tanggung jawab untuk menyimpan rasa rindu, kita hanya bisa menunggu kapan akan bertemu (lagi)


Selasa, 19 Desember 2017

Belajar Mendengarkan

Mendengarkan itu lebih sulit daripada berbicara, contoh kecilnya adalah ketika ada seseorang didepan berbicara, tidak sedikit orang tetap berbicara sendiri di belakang, kan? Memang, kita juga butuh berpendapat dan menanggapi, tetapi kita harus tahu waktu "kapan kita harus mendengarkan dan kapan kita harus berbicara".

Rasanya tidak enak kan kalau berbicara tapi tidak didengarkan? Jadi kita harus memperlakukan orang lain seperti kita ingin di perlakukan.

"dengarkanlah dahulu dan ketika sudah waktunya berbicaralah"

Memberi kesempatan berbicara kepada orang lain, bisa saja membuat orang itu bahagia. Membuatnya merasa didengarkan juga membuatnya bahagia.
Begitupun juga dengan kita, enak kan kalo didengarkan dengan seksama?

Selamat Pagi!

Senin, 18 Desember 2017

Salam dari 18 September 2017

Hei permenkaret,

Kamu dapat salam dari 18 September 2017

“Allah selalu punya cara untukmu belajar tentang kehidupan.  Jangan pernah lelah berjuang.”

Apapun yang terjadi sekarang, sekalipun kamu belum mengerti maknanya, tetap jalani dengan hatimu dan menggunakan otakmu. 

Selasa, 28 November 2017

Sandiwara

Sore ini hujan tanpa perasaan,
dia tidak datang,
lupa pengharapan,
mengabaikan janji,
menaburkan suara-suara manis

Sepi tapi tidak sendiri,
sendiri tapi bersuara,
membisu tak pernah dosa,
ruang "itu" harus dihargai,
namun tidak selamanya membisu,
hanya butuh waktu

Seperti memiliki dua pribadi,
tapi bukan itu maksudnya,
hanya saja zona nyaman membuat semuanya berbeda,
mencari jati diri tak pernah henti,
entah sampai kapan

Minggu, 29 Oktober 2017

Surat Untuk Para Kesayangan

Lagi-lagi perpisahan, lagi-lagi perpisahan. Untuk menjadi orang dewasa ternyata kita harus belajar bagaimana rasanya perpisahan berkali-kali.

Kita tidak bisa menyalahkan waktu, jarak, sebuah tragedi, atau bahkan orang yang terlibat. Karena bagaimana pun memorinya, kenangannya, kita tetap harus melanjutkan hidup masing-masing, kan?

Kita udah sampai di fase ini, berpisah karena sama-sama lulus, sudah sumpah apoteker, dan kembali ke kampung halaman atau malah ada yang merantau lagi. 

Setahun ini seperti singkat namun padat, tahu gak kenapa? Setahun sama kalian aku merasa semua kenangan seperti diukir pelan-pelan, rasanya gak ingin satu detik pun terlewat tanpa kalian. 

Aku selalu bersyukur diberikan sahabat-sahabat baik banget dan yang mengerti bagaimana aku. Kalian benar-benar rezeki yang Allah berikan tiada henti, setiap harinya.

Ketika ada sebuah pertemuan, kita sadar bahwa pada akhirnya kita berpisah juga, tapi aku gak pernah membayangkan sesedih ini, aku kayak orang patah hati yang nangis tiada henti di dalam kereta, semakin menjauh dari kota kita, kota Surakarta.

Biarlah jalan duwet yang bergeronjal itu menjadi saksi bagaimana motor-motor kita melewatinya berkali-kali, biarlah bu kos melon dan pak sarjono menjadi saksi hidup bagaimana kita selalu bersama, sudut-sudut kamar kita pun biarkan mereka merekam apa aja yang kita lakukan, setiap saat dan setiap waktu. Biarkan tempat-tempat itu memiliki tanggung jawabnya masing-masing untuk menyimpan kenangan kita ya? Boleh ya?

Sepertinya hampir tidak ada sudut surakarta tanpa ada kalian, karena kita mendatanginya selalu bersama-sama dan setelah diskusi yang lama (pastinya! haha).

Sebuah pernyataan simple kayak "mau makan apa rek?", rasanya jadi sebuah pertanyaan yang sulit melebihi pertanyaan waktu kompre, melemparkan ke yang lain untuk mikir mau makan apa. Pasti kalo ditanya mamaku mau makan apa, aku jadi inget kalian, terus nangis lagi deh. Padahal cuma sekedar "mau makan apa", hehehe :")

Setauku perpisahan tak pernah seberat ini karena seperti yang kalian tahu setahun kemaren bener-bener pertama kalinya aku ngekos, bagiku kalianlah adalah keluargaku di Solo, jadi rasanya bener-bener kayak kehilangan sesuatu yang berharga di hati. 

Kalo aja soto seger samping kampus bisa denger semuanya pasti tahu apa aja obrolan kita, kalo aja aspal parkiran kampus bisa cemburu pasti mereka cemburu sama bagian depan karena kita cuma mau parkir disitu. Kalo aja tangga kampus bisa merasakan kehadiran kita pasti dia tahu bagaimana kita mengeluh setiap naik satu anak tangga. Kalo aja mading sebelah kantor bu agustin bisa ngerekam kelakukan kita pasti dia udah lapor sama bu agustin bagaimana kita ngomel-ngomel sendiri.

Aku sampe gak bisa mendeskripsikan setiap sudut kota Solo karena rasanya semuanya  tentang kalian. 

Semoga kita tetap bisa selalu cerita sampai kapanpun itu, tanpa ada rasa canggung dan malu (seperti kata thira). Semoga kita masih bisa berebutan cerita satu sama lain, semoga kita yang sekarang, rasanya akan tetap sama ya, di kita yang di masa depan. Semoga kalian yang aku kenal tetaplah seperti ini.

Jangan pernah menyalahkan satu sama lain ketika ada salah satu dari kita tidak bisa bertemu karena aku yakin bukan karena diri kita yang tidak ingin bertemu, pasti karena hal lain.

Jangan pernah lupa sama pak sate-nya pipit, jangan pernah lupa sama nurhida yang banyak hewannya, jangan pernah lupa sama wisma santri awal dimana kita punya kenangan, jangan pernah lupa bahwa kita selalu berjuang bersama sampe bisa sumpah apoteker. Jangan pernah lupain setiap hal yang sudah kita lakuin bersama ya? Biarlah kita mengingat sampai energi kita habis untuk mengingat, biarkan kita menyimpan memori ini sampai kita titipkan cerita ini ke anak cucu kita, sampai rambut kita susah dicari mana yang warna hitam karena sudah putih semua. 

Apapun yang terjadi di masa depan nanti, tidak ada sedetik pun yang aku sesali ketika bersama kalian. Aku sayang kalian dengan sepenuh hatiku. Semoga Allah selalu menjaga tali persahabatan kita sampai ajal yang memisahkan kita Aaamiiiin. 



Yang sudah merindukan kalian


Atikah Nadhifah Fahmi

Di dalam sebuah kereta menuju malang, 07.28, Mutiara Selatan.
Large Yellow Polka Dot Pointer
by ANF