Ingin menyampaikan sebuah pesan tapi tanpa melalui kode yang rumit seperti pintalan benang.
Ingin menyampaikan sebuah pesan tanpa menggunakan botol yang nanti di lemparkan ke laut.
Ingin menyampaikan sebuah pesan tapi tanpa bantuan pak pos yang senantiasa meletakkan pesan itu di kotak surat
Ingin menyampaikan sebuah pesan tapi tanpa ketahuan.
Ingin menyampaikan sebuah pesan tanpa harus bicara, tanpa harus berkata, tanpa harus bertindak tapi sang penerima tahu isi pesan itu, tahu maksud dari pesan itu tanpa penjelasan dari sang penulis pesan.
Ingin menyampaikan sebuah pesan dengan suara kecil yang tidak pernah bisa di dengar oleh siapapun, kecuali ketika hati mulai mendengarkannya dengan perlahan dan hati-hati.
Ingin menyampaikan sebuah pesan melalui doa kepada Tuhan-ku, supaya sang penerima pesan tahu tanpa harus di beri tahu.
Ingin menyampaikan pesan dan sang penerima pesan tetap pura-pura tidak tahu jika pesan itu sudah tersampaikan, karena sang pengirim pesan adalah seseorang yang pemalu.
Jumat, 10 Mei 2013
Kamis, 11 April 2013
Pura-Pura
Pura-pura? Kayaknya aku paling ahli dalam hal itu, hehe, tapi gak juga sih.
He never know what I feel now.
Tau kenapa? Karena aku selalu pura-pura, aku pura-pura gak care, aku pura-pura gak mau ngelihat wajahnya, pura-pura kalau orang itu benar-benar gak berarti di otakku atau hati sekalipun.
Kepura-puraan itu rasanya kayak pake topeng, rasanya pengen banget buka topeng ini, topeng yang gak seharusnya aku gunain.
I wanna him know this, but I won't tell him.
Kepura-puraan itu malah mbikin kratak-kratak kalau ngelihat orang itu, jangan salahkan kalo aku terlalu cuek sama orang itu, tadi kan aku udah bilang "I won't tell him", dan tadi aku udah bilang "aku selalu pura-pura untuk gak care".
Kadang topeng itu harus di lepas sewaktu-waktu, tapi ketika aku memutuskan akan melepaskannya.....
Ada sesuatu yang mencegahnya dan membuat aku tidak bisa melepaskan topeng itu.
Oh iya, satu lagi.
Tulisan ini gak berarti apa-apa, cuma iseng aja. Bener deh.
Tadi kan aku udah bilang, aku pinter pura-pura.
Bukan berarti pura-pura itu berbohong, bedakan antara kedua hal itu. Bohong sama pura-pura itu BEDA.
*if you know what i mean*
He never know what I feel now.
Tau kenapa? Karena aku selalu pura-pura, aku pura-pura gak care, aku pura-pura gak mau ngelihat wajahnya, pura-pura kalau orang itu benar-benar gak berarti di otakku atau hati sekalipun.
Kepura-puraan itu rasanya kayak pake topeng, rasanya pengen banget buka topeng ini, topeng yang gak seharusnya aku gunain.
I wanna him know this, but I won't tell him.
Kepura-puraan itu malah mbikin kratak-kratak kalau ngelihat orang itu, jangan salahkan kalo aku terlalu cuek sama orang itu, tadi kan aku udah bilang "I won't tell him", dan tadi aku udah bilang "aku selalu pura-pura untuk gak care".
Kadang topeng itu harus di lepas sewaktu-waktu, tapi ketika aku memutuskan akan melepaskannya.....
Ada sesuatu yang mencegahnya dan membuat aku tidak bisa melepaskan topeng itu.
Oh iya, satu lagi.
Tulisan ini gak berarti apa-apa, cuma iseng aja. Bener deh.
Tadi kan aku udah bilang, aku pinter pura-pura.
Bukan berarti pura-pura itu berbohong, bedakan antara kedua hal itu. Bohong sama pura-pura itu BEDA.
*if you know what i mean*
Sabtu, 06 April 2013
Analogi
Pohon selalu di lengkapi akar, batang, daun dan ranting.
Kamu itu kayak akar yang memperkokoh batang, batang bisa tegak berdiri karena ada akar yang memperkokoh dan membuat ia tetap kokoh tak tertandingi cetar membahana *lah*.
Kalo ranting, dia bisa jatuh dan patah begitu saja jika angin menerpanya. Kalo daun, dia akan rontok jika dia sudah tak kuat hidup.
Aku mau jadi batangnya kalo akarnya kamu, karena aku yakin kamu bisa memperkokoh semangatku yang masih naik turun gak jelas. Batang sama akar itu bakalan selalu bersama sampe dia tidak kuat untuk hidup dan akhirnya roboh.
Tapi, aku sama sekali gak ingin jadi ranting karena nanti aku pasti sedih, ketika aku jatuh ke tanah, karena aku pasti akan menyaksikan akar dan batang berjuang bersama untuk tetap hidup, sedangkan aku? Dilupakan. Akar lupa kalo ranting itu pernah ada di pohon itu, ada di 'otak' dan 'hati' pohon itu.
Jangan pernah jadikan aku ranting, jadikan aku batang yang kamu kokohkan dengan akarmu dari hari kehari, bisa kan?
*lagi belajar nulis analogi kayak mas alfa*
Kamu itu kayak akar yang memperkokoh batang, batang bisa tegak berdiri karena ada akar yang memperkokoh dan membuat ia tetap kokoh tak tertandingi cetar membahana *lah*.
Kalo ranting, dia bisa jatuh dan patah begitu saja jika angin menerpanya. Kalo daun, dia akan rontok jika dia sudah tak kuat hidup.
Aku mau jadi batangnya kalo akarnya kamu, karena aku yakin kamu bisa memperkokoh semangatku yang masih naik turun gak jelas. Batang sama akar itu bakalan selalu bersama sampe dia tidak kuat untuk hidup dan akhirnya roboh.
Tapi, aku sama sekali gak ingin jadi ranting karena nanti aku pasti sedih, ketika aku jatuh ke tanah, karena aku pasti akan menyaksikan akar dan batang berjuang bersama untuk tetap hidup, sedangkan aku? Dilupakan. Akar lupa kalo ranting itu pernah ada di pohon itu, ada di 'otak' dan 'hati' pohon itu.
Jangan pernah jadikan aku ranting, jadikan aku batang yang kamu kokohkan dengan akarmu dari hari kehari, bisa kan?
*lagi belajar nulis analogi kayak mas alfa*
Kamis, 04 April 2013
Minggu, 24 Maret 2013
Detektif Saturnusku
Dear permen karet manisku :)
Kamu tau?
Detektif Saturnus lagi belajar menganalisa dari kejadian yang ada di depan mata loh bukan dari tulisan aja. Dia mau mbikin ke-sotoy-annya itu memang bener-bener fakta :p
Semoga apa yang di analisa detektif Saturnus gak pernah meleset ya :D
Kalo meleset, maafin deh, namanya juga manusia :p
Kamu tau?
Detektif Saturnus lagi belajar menganalisa dari kejadian yang ada di depan mata loh bukan dari tulisan aja. Dia mau mbikin ke-sotoy-annya itu memang bener-bener fakta :p
Semoga apa yang di analisa detektif Saturnus gak pernah meleset ya :D
Kalo meleset, maafin deh, namanya juga manusia :p
Langganan:
Postingan (Atom)
by ANF

